Cem-Macem-Of-Me

Digital Diary of Lisa Aviatun Nahar. I blog to express, not to impress.

Rabu, 22/01/2014 09:58:19 
*Sumber: http://www.suara-islam.com/read/index/9692/Muslimah-Melamar-Duluan—Siapa-Takut-


“Malu ah, kayak kita nggak punya harga diri aja,” jawab seorang muslimah ketika diberi saran oleh salah seorang ustadzah agar ia melamar seorang ikhwan shalih untuk menjadi pendamping hidupnya. Sang ustadzah menyarankan demikian pasalnya sang muslimah mengaku telah siap menikah dan ‘menaruh simpati’ dengan seorang ikhwan yang ia ketahui track recordnya adalah seorang shalih lagi komitmen terhadap amanah dakwah.

Dalam pandangan sang ustadzah, apa masalahnya seorang akhwat melamar ikhwan untuk dijadikan suami. Toh akhwat tersebut telah berusia matang dan siap lahir batin untuk menikah. Dan sang ikhwan adalah lelaki shalih yang tidak diragukan lagi komitmennya terhadap Islam. Dan yang lebih penting lagi, toh syariat juga membolehkan seorang wanita melamar pria.

Namun dalam benak sang akhwat, ia merasa tindakan tersebut tidak umum terjadi di masyarakat. Naluri keakhwatannya merasa tidak pantas dan malu jika harus melamar seorang pria terlebih dahulu. Sebab lazimnya yang ia lihat, prialah yang harusnya melamar lebih dulu dan bukan wanita.

Berkaca pada Ummahatul Mukminin, Khadijah ra

Khadijah adalah seorang saudagar Arab Quraisy yang kaya raya. Parasnya jelita, begitu juga kepribadiannya. Allah mempertemukannya dengan Muhammad yang saat itu belum diangkat menjadi Rasul.

Muhammad adalah salah satu pedagang yang dipekerjakan Khadijah. Dalam salah satu tugasnya, Khadijah meminta Muhammad menjual dagangannya ke Syam dengan didampingi pembantu Khadijah, Maisarah.

Selain mendampingi, Maisarah juga diminta untuk mengawasi Muhammad. Sepulangnya dari Syam, Maisarah membawa banyak berita yang membuat hati Khadijah senang, diantaranya sikap jujur Muhammad dan kebijaksanaannya dalam menjual barang-barang Khadijah sehingga mendatangkan keuntungan yang banyak.

Cerita lain yang membuat Khadijah kagum pada Muhammad adalah kepribadiannya yang shalih. Sepanjang perjalanan, seperti dituturkan Maisarah, Muhammad tidak pernah ikut bersuka ria bersama pedagang lainnya. Muhammad lebih senang menyendiri dengan bibir yang tidak pernah kering dari kata-kata dzikir.

Usia Khadijah ketika itu 40 tahun sementara Muhammad 25 tahun. Pada usia itu pula, Khadijah memutuskan untuk melamar Muhammad dengan cara yang terhormat. Ia mengutus sahabatnya yang bernama Nafisah untuk menjadi perantara dalam menyampaikan perasaannya kepada Muhammad.

Amanah yang disampaikan Nafisah membuat Muhammad sangat terkejut. Beliau tidak tahu harus menjawab apa. Di matanya, Khadijah adalah pedagang kaya raya dan jelita. Namun, setelah termenung sejenak, tanpa ragu akhirnya Muhammad menerima keinginan hati Khadijah. Muhammad lalu menikahi Khadijah.

Kisah serupa lainnya juga dialami oleh Nabi Musa as. Kejadian ini terekam dalam surah Al Qashash ketika Nabi Musa yang tengah dalam pelarian dari kejaran Firaun lalu membantu dua orang gadis mengambil air bagi ternak mereka.

Ketika itu, sumur ‘dikuasai’ kaum penggembala laki-laki, kedua putri itu pasti akan mengalami kesulitan memberi minuman ternak mereka kalau harus menunggu terus sampai kaum lelaki selesai. Karena itu, Musa yang bertubuh besar dan perkasa itu lalu mengambilkan air bagi mereka.

Sesudahnya, Musa as terduduk dan berdoa memohon pertolongan Allah. Gadis-gadis itu mendengar lalu menceritakannya kepada ayah mereka, seorang tokoh kota Madyan. Maka sang Ayah pun mengundang Musa agar menemuinya.

Dalam perjalanan mereka, si gadis berjalan di depan Nabi Musa as untuk menunjuki jalan, tapi Musa pun menyuruhnya untuk berjalan di belakangnya saja, jika ia berjalan ke arah yang salah dimintanya agar sang gadis menimpuknya dengan kerikil.

"Salah seorang dari dua gadis itu berkata kepada ayahnya, ‘Hai ayahku, terimalah dia sebagai pekerja upahan. Pekerja upahan yang baik ialah yang kuat dan terpercaya.’ Ayahnya berkata, ‘Saya bermaksud akan menikahkan kamu dengan salah seorang anak gadis saya ini dengan syarat kau bekerja padaku selama delapan tahun, kalau akan disempurnakan sampai sepuluh tahun, itu terserah kepadamu. Saya tidak bermaksud menyusahkan kamu. Insya Allah kamu akan mendapatkan aku termasuk orang-orang yang shalih." (QS. Al Qashash : 26-27)

Bagaimana Sekarang?

Di Maroko, kabarnya, belakangan ini kaum wanita mulai berani melamar calon pasangannya. Hanya sayangnya, alasan yang ditiupkan para pendukung tradisi baru ini adalah bahwa karena wanita dianggap ‘sejajar’ dengan kaum pria. Masalahnya, tren baru ini bertolak belakang dengan tradisi setempat sehingga menimbulkan pro-kontra.

Di Indonesia pun, praktik semacam ini sebenarnya sudah lama dilakukan oleh suku Minangkabau (Padang). Menurut suku yang menganut paham garis keturunan dari ibu (matrilineal) ini, pihak wanitalah yang harus lebih dulu melamar. Meski demikian, di sejumlah daerah, terutama yang kental adat ketimurannya, orang menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang tabu.

Islam tidak Melarang

Syariat Islam sendiri tidak melarang wanita melamar lebih dulu pria idamannya. Bila sudah menemukan calon yang tepat (shalih), tidak ada salahnya bila kita melakukan first move.

Hal tersebut seperti diriwayatkan hadits berikut ini: Dari Tsabit ia berkata, “Kami duduk bersama Anas bin Malik yang di sebelahnya ada seorang anak perempuannya. Lalu Anas berkata, ‘Datanglah seorang perempuan kepada Rasulullah, lalu ia menawarkan dirinya kepada beliau, kemudian perempuan itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, maukah tuan mengambil diriku?’ Kemudian anak perempuan Anas menyeletuk, ‘Betapa tidak malunya perempuan itu!’ Lalu Anas menjawab, ‘Perempuan itu lebih baik daripada kamu. Ia menginginkan Rasulullah karena itu ia menawarkan dirinya kepada beliau.’” (HR. Ibnu Majah)

Berikhtiar untuk mendapatkan jodoh tentu merupakan amal shalih, seperti juga menikah yang merupakan perbuatan mentaati syariat agama. Dan Allah telah berfirman bahwa setiap perbuatan baik (amal shalih), baik laki-laki maupun wanita akan diganjar dengan pahala yang sama. “Siapapun berbuat kebaikan, laki-laki atau perempuan sedang ia beriman, mereka akan masuk surga dan sedikitpun mereka tidak teraniaya.” (Q.S. An Nissa : 124)

Namun di sebagian besar masyarakat Indonesia, misalnya, inisiatif untuk melamar dianggap lebih sopan jika datang dari pihak laki-laki. Masalah gengsi juga kerap kali menghalangi wanita untuk melamar pria idamannya. Padahal jika syariat Islam saja tidak menghalangi, mengapa harus gengsi? Hanya saja, sama saja halnya seorang lelaki juga harus “siap mental” jika lamarannya ditolak, maka seorang perempuan yang melamar juga harus siap siaga menerima kemungkinan ditolak.

Lewat Perantara

Tidak ada aturan baku perihal tata cara wanita melamar laki-laki, namun kita dapat meniru pengalaman Khadijah ketika melamar Rasulullah saw. Untuk menjaga kehormatannya, ia memakai perantara dalam menyampaikan perasaan dan lamarannya terhadap Rasulullah saw.

Keberadaan perantara ini dapat mencegah timbulnya fitnah atas lamaran yang disampaikan. Adanya perantara juga dapat membantu menjaga kehormatan wanita sebagai pihak yang memiliki inisiatif melamar.

Perantara Harus Amanah

Saat Khadijah memutuskan melamar Rasulullah saw ia tidak sembarangan memilih perantara. Khadijah memilih perantara yang amanah, yaitu sahabatnya yang bernama Nafisah. Dalam kisah Nabi Musa pun, si gadis yang menaruh hati pada Nabi Musa meminta ayahnya sendiri sebagai penyambung lidahnya.

Sedikitnya ada dua kriteria yang perlu diperhatikan saat memilih perantara, yakni seiman dan amanah. Sikap amanah ini diperlukan agar kehormatan pihak wanita yang mengajukan lamaran tetap terjaga. Hal lain yang juga perlu diingat, adalah prosesi lamaran. Tidak perlu membawa banyak orang saat proses lamaran. Cukup satu atau dua orang saja yang berperan sebagai saksi.

Berbeda dengan akad, khitbah tidak perlu disyiarkan, karena ada kemungkinan pengajuan lamarannya tidak diteruskan atau ditolak. Tidak perlu semua orang tahu, sehingga jika lamaran itu ditolak tidak mendatangkan aib.

Bagaimana? Jika telah ada lelaki yang diyakini keshalihannya dan muslimah sekalian telah memenuhi syarat syariat diatas serta tentunya telah siap mental… Tunggu apa lagi?. Wallahu’alam bissawab

HR / dari berbagai sumber

Sulit untuk dilakukan. Tetapi ia menjadi salah satu sumber kebahagiaan, kedamaian.

Sebuah pelajaran tak selalu datang dari mereka yang senantiasa berjalan lurus dalam kehidupan.

Pelajaran, bisa juga hadir dari seseorang yang belajar banyak dari sebuah kesalahan.

“Ketika ada orang punya salah sama gue, ngapain sih ngga gue maafin? Karena gue inget, dulu betapa gue pingin banget orang memaafkan…

View On WordPress

When it comes to educating adolescent girls, the real challenge isn’t just about resources, it’s about attitudes and beliefs. It’s about whether fathers and mothers think their daughters are as worthy of an education as their sons.
The First Lady @michelleobama to world leaders at a @UnitedNations Global Education First Initiative event #HeForShe
Don’t tell your husband to come home.
.
Instead, provide a ‘home’ he can’t resist returning to.
http//ask.fm/manampiring
Kepada anak2 gue….
.
Elu dilahirkan pada sebuah masyarakat yang akan menilai elo dari tampang elo, gender elo, agama elo, warna kulit lo, barang2 apa yang menempel di tubuh lo dan seberapa tebel dompet lo.
Gw sebagai bokap lo cuma pesen untuk nggak membalas perbuatan mereka dengan hal yang sama, nilailah orang menurut apa yang mereka ucapkan dan apa yang mereka perbuat, biarkan hal2 yang gak penting seperti status, orientasi seksual, jabatan, pilihan politik, agama dikesampingkan dan tidak membuat elo menilai orang dengan berbeda.
.
Biarkan penilaian mereka yang gak rasional itu berhadapan dengan logika elo, maka dari sekarang bangun logika dari dasar, pertanyakan semuanya, dapatkan data sebanyak2nya dan belajarlah bagaimana menghubungkan data2 yang elo terima menjadi sebuah kesimpulan yang sampai kapanpun bisa elo revisi dan lo jadikan pegangan prinsip idup elo.
.
Jangan pernah berharap elo berdua bisa bikin gw bangga, karena bangga gw udah penuh dari awal semenjak tangisan pertama elo gw dengar.
.
Biarkan mereka menilai elo apa adanya dan jangan lupa untuk menyadarkan bahwa elo dan mereka adalah sama.
.
Karena elo dan mereka adalah manusia
@SoundOfYogi

Kemarin ada yang tanya ke @SoundOfYogi di ask.fm. Apa pesan untuk anak-anaknya? Salah satu pesan Yogi untuk anaknya adalah:
Jangan pernah berharap elo berdua bisa bikin gw bangga, karena bangga gw udah penuh dari awal semenjak tangisan pertama elo gw dengar.”
Sangat menyentuh. Pesan ini datang dari seseorang yang mengaku agnostik, tak acuh akan pendapat orang, juga terlihat kasar. Tapi pesannya…

View On WordPress

Sudah lama sekali tidak tulis apa-apa di blog. Biasanya sebulan sekali minimal ada satu tulisan.

Tulisan adalah hasil pemikiran, atau bukti bahwa otak kita berpikir. Sebenarnya kalau soal pikiran mah selalu ada. Masalahnya, mendadak saya tidak tahu mau tulis apa, atau mungkin tidak tahu bagaimana menuliskan apa yang saya pikirkan. Tapi bisa jadi juga pikiran saya tidak cukup bermutu untuk menjadi…

View On WordPress

Just write. It doesn’t matter what you write. Just sit at your desk and write.
Emma Thompson on #screenwriting

"Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, Telah menceritakan kepada kami Marhum bin Abdul Aziz bin Mihran, ia berkata; Aku mendengar Tsabit Al Bunani berkata; Aku pernah berada di tempat Anas, sedang ia memiliki anak wanita. Anas berkata, ""Ada seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menghibahkan dirinya kepada beliau. Wanita itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, adakah Anda berhasrat padaku?"" lalu anak wanita Anas pun berkomentar, ""Alangkah sedikitnya rasa malunya.."" Anas berkata, ""Wanita lebih baik daripada kamu, sebab ia suka pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga ia menghibahkan dirinya pada beliau."""

(HR. Bukhari)

Kemarin seorang kawan meminta bantuan. Dia meminta saya menggantikannya di acara youth camp di Jogjakarta. Acara tersebut mengumpulkan anak-anak muda, masih kuliah, untuk saling berkenalan dan berdiskusi mengenai toleransi di Indonesia.

Kebetulan acaranya akan bentrok dengan acara lain yang sudah lebih dulu menggenggam janji saya untuk hadir. Saya yakin saya tak akan bisa menghadiri acara di Jogja untuk menggantikan kawan saya itu.

Tapi kemudian saya berpikir, kalaupun pada tanggal itu, saya tak ada acara, apa saya masih mau hadir untuk menggantikan kawan saya di acara youth camp itu? Entah kenapa, rasanya berat sekali untuk menjawab iya. Kalaupun iya saya akan hadir, hanya karena ingin membantu kawan. Tak lebih.

Karena kini saya sadari, acara semacam itu bukan lagi sesuatu yang membuat saya semangat untuk menghadirinya.

Mungkin karena faktor usia yang tak semuda dulu? Bisa jadi. Tapi ada faktor yang lebih kuat lagi. Karena sekarang saya sudah menikah dan fokus saya tak lagi melibatkan kegiatan semacam itu.

Saat ini yang saya inginkan adalah fokus untuk mempersiapkan diri menjadi ibu. Saya mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk menjadi istri dan ibu yang terbaik untuk anak-anak saya kelak. Pergaulan saya sudah selayaknya dengan mereka yang telah lebih dulu mengenakan mahkota bernama ‘ibu’. Saya harus mempersiapkan diri dan belajar dari mereka sebanyak-banyaknya.

Youth camp ini sudah bukan untuk saya lagi. Dan hati saya sudah tak begitu menginginkan kegiatan semacam itu lagi. Sudah cukup masa-masa itu saya nikmati. Sekarang adalah giliran mereka yang jauh lebih muda dari saya untuk menggenggam pengalaman-pengalaman berharga semacam ini sebagai bekal.

Sedangkan saya, cukup menyokong saja.