Cem-Macem-Of-Me

Digital Diary of Lisa Aviatun Nahar. I blog to express, not to impress.

*Disclaimer: ini tulisan tidak penting. :D

Sudah hampir setahun tinggal sama mertua di Garut. Praktis kalau mau bimbingan ke Jatinangor atau Bandung, harus rela melalui perjalanan panjang minimal 1,5 jam dengan motor. Kenapa motor? Obviously karena menggunakan motor lebih hemat dan lebih cepat. Hehe.

Dalam perjalanan, sangat membosankan kalau tidak ada yang bisa saya dengarkan. Biasanya saya…

View On WordPress

Mencintai Al-Qur’an

Sudah beberapa bulan ini mengikuti gerakan membaca Al-Qur’an satu hari satu juz. Mengikuti gerakannya saja, tidak sampai bergabung dengan komunitasnya. Sejauh yang bisa saya ingat, ada satu alasan yang memicu saya untuk mengikuti gerakan ini: saya ingin anak-anak saya menjadi anak-anak yang mencintai Al-Qur’an.

Hz. Khalifatul Masih V aba. dalam salah satu khutbahnya menyatakan bahwa kalau kita…

View On WordPress

Originally posted on kisytinuh:

Dear Lelaki Shalih

Di Mana pun Kalian berada

197507_454503971258981_1264828099_n.jpg_480_480_0_64000_0_1_0

Perkenankan saya mewakili suara hati beberapa orang muslimah yang masih belajar untuk menjadi perempuan Shalihah. Surat ini sebenarnya saya khususkan untuk Lelaki shalih yang ada di dalam bahtera yang berlayar di akhir jaman membawa panji Islam, menuju sebuah pulau Kemenangan dengan peta Al-Qur’an. Dan lebih…

View On WordPress

Semua pasti tahu, bahwa pada masa Nabi, setiap masuk waktu sholat, maka yang mengkumandankan adzan adalah Bilal bin Rabah. Bilal ditunjuk karena memiliki suara yang indah. Pria berkulit hitam asal Afrika itu mempunyai suara emas yang khas. Posisinya semasa Nabi tak tergantikan oleh siapapun, kecuali saat perang saja, atau saat keluar kota bersama Nabi. Karena beliau tak pernah berpisah dengan Nabi, kemanapun Nabi pergi. Hingga Nabi menemui Allah ta’ala pada awal 11 Hijrah. Semenjak itulah Bilal menyatakan diri tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar Ra. memintanya untuk jadi mu’adzin kembali, dengan hati pilu nan sendu bilal berkata: “Biarkan aku jadi muadzin Nabi saja. Nabi telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.”
 
Abu Bakar terus mendesaknya, dan Bilal pun bertanya: “Dahulu, ketika engkau membebaskanku dari siksaan Umayyah bin Khalaf. Apakah engkau membebaskanku karena dirimu apa karena Allah?.” Abu Bakar Ra. hanya terdiam. “Jika engkau membebaskanku karena dirimu, maka aku bersedia jadi muadzinmu. Tetapi jika engkau dulu membebaskanku karena Allah, maka biarkan aku dengan keputusanku.” Dan Abu Bakar Ra. pun tak bisa lagi mendesak Bilal Ra. untuk kembali mengumandangkan adzan. 
 
Kesedihan sebab ditinggal wafat Nabi Saw., terus mengendap di hati Bilal Ra. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria. Lama Bilal Ra tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Nabi Saw hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya: “Ya Bilal, wa maa hadzal  jafa’? Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?.” Bilal pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah pada Nabi. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Nabi.
 
Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Nabi Saw., pada sang kekasih. Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucunda Nabi Saw., Hasan dan Husein. Sembari mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Nabi Saw itu. Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal Ra.: “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan buat kami? Kami ingin mengenang kakek kami.” Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.
 
Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu shalat tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Nabi Saw masih hidup. Mulailah dia mengumandangkan adzan. Saat lafadz “Allahu Akbar” dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan, itu telah kembali. Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sembari berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.
 
Dan saat bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Nabi, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai.

Hari itu, madinah mengenang masa saat masih ada Nabi Saw. Tak ada pribadi agung yang begitu dicintai seperti Nabi Saw. Dan adzan itu, adzan yang tak bisa dirampungkan itu, adalah adzan pertama sekaligus adzan terakhirnya Bilal Ra, semenjak Nabi Saw wafat. Dia tak pernah bersedia lagimengumandangkan adzan, sebab kesedihan yang sangat segera mencabik-cabik hatinya mengenang seseorang yang karenanya dirinya derajatnya terangkat begitu tinggi.

Semoga kita dapat merasakan nikmatnya Rindu dan Cinta seperti yang Allah karuniakan kepada Sahabat Bilal bin Rabah Ra. Dan bisa bertemu dg kekasih kita Rosulullah dalam surga nanti. Aamiin.

*Sumber: unknown

Semua pasti tahu, bahwa pada masa Nabi, setiap masuk waktu sholat, maka yang mengkumandankan adzan adalah Bilal bin Rabah. Bilal ditunjuk karena memiliki suara yang indah. Pria berkulit hitam asal Afrika itu mempunyai suara emas yang khas. Posisinya semasa Nabi tak tergantikan oleh siapapun, kecuali saat perang saja, atau saat keluar kota bersama Nabi. Karena beliau tak pernah…

View On WordPress

Originally posted on Hibatun Naeem:

mungkin karena lingkaran pergaulan saya sempit, saya belum menemukan kenalan saya yang mendukung pasangan no. 1 dengan alasan yang cerdas, tidak dangkal, atau paling tidak, masuk akal. sekali lagi, kemungkinan besar karena lingkaran pergaulan saya kecil, saya hanya menemukan 3 pendapat dari kenalan saya yang mendukung pasangan no. 1 :

#1 Supaya gaji guru naik…

View On WordPress

Originally posted on kisytinuh:

image
Malam Kamis tanpa gerimis, sedikit menyisakan hati yang teriris jika mengingat waktuku di dunia ini semakin menipis. Setiap malam otakku selalu terpikir tentang kematian. Semakin bertambah koleksi angka umurku, semakin nyata bayangan kematian dan kehidupan setelah mati. Malam ini pun aku kembali teringat, ada sebuah hukum yang berlaku di dunia, namun jarang…

View On WordPress

kecewaitubiasa.com
Berani kecewa itu baru luar biasa
Edward Suhadi

Rasanya sudah lamaaaaa sekali tidak membeli buku karena benar-benar tertarik untuk membacanya. Terakhir kali membeli buku sekitar bulan Februari. Itu pun karena terdesak kebutuhan tesis, bukan karena memang tertarik untuk membacanya.

Dan dua hari yang lalu, akhirnya beli buku karena memang benar-benar tertarik membacanya. Saya baru sadar ternyata bentuk fisik buku memiliki daya mistis yang memang…

View On WordPress

Salam http://wp.me/sk4lv-salam

Originally posted on kisytinuh:

Kali ini, mau sharing tentang salam. Yap, ini bukan daun salam yang mengharumkan masakan, tapi tentang sapaan salam yang sering kita ucapkan kepada siapa saja di manapun dan kapanpun. Namun dalam penulisan kata salam ini, banyak kita jumpai berbagai versi mulai dari “As”, “Ass”, “Akum”, “Askum”, “Ass. Wr. Wb”, “Mikum”, “Samlekom” dan masih banyak…

View On WordPress